Logo SantriDigital

Pentinya tabayyun terhadap kejadian

Khutbah Jumat
A
Abdul Aziz Ahmad
9 Mei 2026 3 menit baca 2 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ و...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah, Di antara nikmat terindah yang Allah karuniakan kepada kita adalah nikmat akal dan kemampuan untuk berpikir. Akal ini adalah amanah yang akan kita pertanggungjawabkan kelak di hadapan-Nya. Ia adalah cahaya yang seharusnya menuntun kita dalam setiap langkah, dalam setiap penerimaan informasi, dan dalam setiap penilaian terhadap suatu peristiwa. Namun, seringkali dalam gemuruh arus informasi yang membanjiri dunia kita, akal ini tertatih-tatih, terbuai, bahkan terjerumus dalam jurang kesalahpahaman, prasangka buruk, dan permusuhan. Oleh sebab itu, pada mimbar yang mulia ini, mari kita renungkan bersama urgensi sebuah sikap mulia nan vital dalam kehidupan seorang Muslim: Tabayyun. Tabayyun, secara harfiah, berarti mencari kejelasan, meneliti dengan cermat, memverifikasi kebenaran. Ini adalah sebuah perangai yang diajarkan oleh agama kita, sebuah etika berinteraksi yang dijaga oleh para salafus shalih kita, dan sebuah kunci untuk menjaga tatanan masyarakat dari fitnah yang merusak. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'anul Karim: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya, yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." (QS. Al-Hujurat: 6) Ayat yang mulia ini, bagaikan penyejuk kalbu di tengah terik informasi yang menyesatkan, memberikan peringatan keras kepada kita kaum beriman. Perintah untuk "tabayyun" (periksalah dengan teliti) bukanlah sekadar saran, melainkan sebuah instruksi ilahi yang mengikat. Dan ancaman "menyesal atas perbuatanmu itu" menyingkap betapa buruknya konsekuensi jika kita mengabaikan perintah ini. Bayangkan, betapa celakanya nasib kita jika menerima berita dari orang fasik saja diperintahkan untuk diteliti, lalu bagaimana dengan berita yang datang dari sumber yang tidak jelas, dari media sosial yang penuh dengan rekayasa, atau dari bisikan-bisikan yang menyulut kebencian? Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Pernahkah kita merenungkan betapa banyak permusuhan yang lahir dari asumsi semata? Betapa banyak hubungan yang hancur karena rumor tak berdasar? Betapa banyak hati yang terluka oleh fitnah yang disebarkan tanpa verifikasi? Semua ini berawal dari kegagalan kita untuk menerapkan sikap tabayyun. Kita terlena oleh kecepatan berita, terpesona oleh sensasi, atau tergelincir oleh syahwat untuk menyebarkan sesuatu tanpa memeriksa kebenarannya. Lihatlah para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Ketika terjadi suatu peristiwa, mereka tidak terburu-buru menyimpulkan. Mereka mencari kejelasan. Mereka bertanya. Mereka memverifikasi. Sikap inilah yang menjadi benteng kokoh keharmonisan dan kejernihan dalam masyarakat mereka. Ketika kita mendengar sebuah berita, atau menyaksikan suatu kejadian, mari kita bekali diri dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar: Siapa sumbernya? Apa bukti konkretnya? Apa motif tersembunyi di baliknya? Apakah ini sejalan dengan ajaran agama kita yang menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran? Jangan biarkan telinga kita menjadi corong kebohongan, dan jangan biarkan lisan kita menjadi alat fitnah. Jadikan akal kita sebagai penimbang, hati kita sebagai penjaga, dan agama kita sebagai kompas. Ingatlah, setiap kata yang kita seucapkan, setiap informasi yang kita sebarkan, akan dimintai pertanggungjawaban di sisi Allah. Bapak-bapak, Ibu-ibu, Saudara-saudari sekalian... Marilah kita mulai hari ini, dalam setiap momen kehidupan kita, untuk membudayakan tabayyun. Di tengah keluarga, di lingkungan kerja, di tengah masyarakat, bahkan dalam interaksi maya kita. Ketika ada kesalahpahaman, jangan langsung berasumsi. Bertanyalah. Ketika ada berita yang meresahkan, carilah kebenarannya sebelum ikut menyebarkannya. Kehati-hatian dalam menerima dan menyebarkan informasi adalah bentuk ketaatan kita kepada Allah, wujud kepedulian kita terhadap sesama, dan jalan untuk meraih ketenangan jiwa. Perjalanan hidup ini penuh dengan ujian, dan salah satunya adalah ujian terhadap cara kita menyikapi apa yang sampai kepada kita. Mari, kita jadikan tabayyun sebagai filter jiwa, penjaga akal, dan perisai keharmonisan. Agar kita tidak termasuk golongan orang yang menyesal karena kecerobohan kita. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →